Surabaya ke Sumba: Dua Hari Dua Malam di Atas Kapal DLU Dharma Kartika V

Setelah menghabiskan tiga malam di Surabaya, hari berikutnya kami siap untuk leg kedua perjalanan menuju Sumba: naik kapal ferry DLU KM Dharma Kartika V dari Pelabuhan Tanjung Perak. Dua hari dua malam di laut, pengalaman pertama buat kami.

Perjalanan ini kami lakukan bareng rombongan. Total ada 11 motor yang ikut menyeberang, belum termasuk beberapa teman yang menyusul naik pesawat atau menyewa motor langsung di Sumba.

Pagi itu Surabaya agak mendung. Kami kumpul dulu di minimarket dekat pelabuhan untuk sedikit beli perbekalan. Khususnya aku dan suami beli sandal jepit untuk dipakai selama di kapal.

Naik KM Dharma Kartika V

Setelah proses scan dan penandaan kendaraan, kami diarahkan masuk ke dalam kapal. Motor diparkir di area yang sudah ditentukan, lalu kami naik ke dek penumpang. Kami pesan kabin kelas III dengan harga Rp 605.898 per orang, dan biaya angkut motor 250cc Rp 614.253. Untuk info terkini cek langsung harga di website atau aplikasi DLU Ferry ya.

Kabin kami Kelas III, ber-8 dalam satu kabin dengan model bunkbed tingkat dua. Meskipun sharing, tiap bed punya tirai dan lampu sendiri jadi tetap ada privasinya. Cukup nyaman untuk perjalanan dua malam, terutama juga karena sekamar ini satu rombongan jadi rasanya aman.

Setelah naruh barang, kami keliling kapal dulu. Fasilitasnya lumayan lengkap: restoran, musala yang bersih, minimarket, ruang baca, barber shop, ruang karaoke, bahkan… lapangan futsal! Ada juga dispenser air panas gratis yang bisa dipakai untuk bikin kopi atau teh kapanpun.

Soal kamar mandi, airnya terasa hangat, mungkin karena toren-nya kejemur matahari seharian 😄 Yang unik, kapal ini ternyata bekas kapal Jepang, jadi di dalam area kamar mandi ada onsen-nya, tapi tentu tidak dipakai sebagai onsen lagi. Sudah dibuatkan bilik-bilik supaya tetap private.

Rute asli kapal ini sebetulnya Surabaya–Kupang. Jadi Waingapu bukan pemberhentian terakhir — kapal akan sandar dulu di Pelabuhan Gilimas Lombok, lalu Waingapu, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Kupang.

Selama kapal berlayar, akses ke dek kendaraan ditutup. Jadi kalau butuh ambil sesuatu dari motor, harus nunggu sampai kapal sandar dulu. Lumayan penting ini buat diingat sebelum berangkat — pastikan barang yang diperlukan selama di kapal sudah dibawa naik duluan!

Fun Facts KM Dharma Kartika V

Kapal ini dibangun tahun 1998, jadi sudah berumur sekitar 27 tahun tapi masih aktif dan terawat. Panjangnya 153 meter, kapasitas 1000 penumpang, dengan geladak kendaraan dua lantai yang bisa menampung ratusan kendaraan. Pantas aja waktu di atas kapal nggak terlalu kerasa guncangannya, karena ukuran kapal yang besar.

Dua Hari di Laut

Hal pertama yang kerasa begitu kapal jalan: sinyal hilang. Hanya sesekali muncul saat kapal melintas dekat pulau. Jadi ya, dua hari ini benar-benar offline; ngobrol, makan, tidur, nikmatin sunrise dan sunset di laut.

Kami melewati Selat Lombok dan ombaknya lumayan berasa, tapi kapal yang besar ini meredamnya dengan cukup baik. Soal makan, selama di kapal kita sudah dapat jatah makan. Tapi kalau lapar di luar jadwal atau pengen ngemil, ada Walakiri Resto yang jual berbagai makanan. Kemarin itu ada menu  rawon, sup daging, bakso, ayam goreng, ikan goreng. Harganya menurutku cukup reasonable, nasi rawon lengkap dengan kecambah dan telor asin Rp 35.000 saja. Ada juga swalayan yang jual cemilan, minuman kemasan, dan kopi sachet. Jadi intinya, nggak perlu khawatir kelaparan selama di kapal, asal bawa bekal uang ya karena di kapal tidak ada ATM dan tidak bisa bayar pake QRIS! 😄

Untuk mengisi waktu, selain ngobrol dan makan, aku nonton Netflix dan YouTube dari download-an. Worth it banget disiapkan sebelum berangkat mengingat sinyal nyaris nggak ada selama di laut.

Oh ya, tiap malam jam 8–10 ada live music di panggung kapal. Lagu-lagunya campuran koplo Jawa dan lagu pop Indonesia Timur, lumayan seru buat nemenin malam di tengah laut.

Highlight perjalanan ini buat aku: matahari terbit di hari ketiga. Langit jingga, kuning, biru, lautnya tenang. Indah banget, dan rasanya worth it semua lelah perjalanannya.

Tiba di Waingapu

Kapal ternyata tiba lebih cepat dari jadwal, jadi kami harus sedikit menyesuaikan rencana. Proses turun motor berjalan lancar, meski harus hati-hati karena suka ada aja ceceran oli di dek kapal. Begitu kaki menginjak Waingapu, Sumba Timur, udara di sini langsung kerasa beda. Segar, cerah, dan kami siap mulai touring!

Kalau penasaran sama serunya perjalanan naik kapal DLU ini secara visual, nonton video ini yaaa.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.