Bukit Tanarara dan Pantai Walakiri Sumba Timur
![]()
Jujur, sampai sekarang masih ada momen di mana aku tiba-tiba ingat betapa senangnya waktu akhirnya beneran bisa ke Sumba. Bukit Tanarara dan Pantai Walakiri, dua nama yang udah lama tersimpan di kepala sejak sering lihat foto-fotonya di media sosial. Dan Mei 2026 kemarin, akhirnya bisa lihat sendiri dari balik kacamata hitam dan helm-ku, sambil duduk di boncengan Xmax.
Menuju Bukit Tanarara
Dari Hotel Padadita, perjalanan ke Bukit Tanarara sekitar 40-50 menit. Jalannya berkelok, kadang ada pasir basah di aspal, terutama kalau habis hujan. Beberapa kali rombongan harus berhenti mendadak karena kuda atau sapi tiba-tiba nyebrang di jalan. Di Sumba memang begitu, hewan-hewan itu bebas hilir mudik. Untungnya semua udah sigap.
Begitu sampai di bukitnya, pemandangannya langsung bikin hati berucap Masyaallah berulang-ulang. Nama “Tanarara” sendiri berasal dari kata “Tana Rara” yang artinya Tanah Merah. Konon kalau kita terus sampai ke desanya, bisa lihat langsung tanah berwarna merah yang jadi asal-usul nama itu. Waktu ke sana kemarin itu pas musim peralihan, jadi warna rumputnya nggak serba hijau, ada yang mulai coklat keemasan. Awalnya sempat kepikiran, “aduh sayang banget.” Tapi ternyata justru kombinasi warna itu yang bikin pemandangannya terasa beda. Seperti dapat dua versi Tanarara sekaligus.
![]()


Lanjut ke Pantai Walakiri
Dari Tanarara, kita lanjut ke Pantai Walakiri, sekitar 20-25 km. Aku dapat cerita di balik namanya: “Walakiri” artinya “belok kiri.” Begitu cara orang lokal mengarahkan tamu yang mau ke pantai ini, dan lama-lama jadilah nama yang dikenal semua orang. Simpel, tapi lucu juga.
Pantai ini terkenal karena pohon bakau yang bisa jadi siluet cantik saat sunset yang dikenal dengan istilah Dancing Trees. Sayangnya waktu kita sampai, air lagi pasang jadi nggak bisa masuk terlalu jauh ke area bakau. Gerimis juga sempat turun sebentar. Tapi suasana pantainya tetap asyik. Anak-anak kecil main di pinggir, beberapa anjing kampung mondar-mandir, dan teman-teman rombongan udah sibuk foto masing-masing. Bapak-bapaknya ngumpul ngobrol, ibu-ibunya justru lebih fokus hunting foto.



Pas aku duduk santai di saung sebelum sesi foto, lagi enak-enak ngobrol dengan sesama boncengers tiba-tiba ada anak kambing kecil mendekat. Sok akrab sekali nampaknya. Betah dia di nongkrong di dekat aku. Pipinya disandarkan pelan-pelan ke kaki aku. Gemas banget! Jadi ingat Lintong, kucing aku di rumah yang juga suka nempel-nempel kayak gitu. Kayaknya memang hewan bisa ngerasain siapa yang gampang dibuat mellow ya.
Kalau Bukit Tanarara dan Pantai Walakiri udah masuk wishlist kalian, semoga segera kesampaian untuk bisa sampai sana juga ya. Touring ke Sumba itu beda, dan susah banget dijelasin kalau belum pernah ngerasain sendiri.