Desa Adat Prai Ijing dan Wee Kacura

Hari itu kita berangkat dari Hotel Padadita di Sumba Timur, pagi-pagi, dengan rombongan motor teman-teman. Tujuannya ke Sumba Barat yang berjarak sekitar 130-140 kilometer dari hotel Padadita yang kami inapi di Sumba Timur.

Jalanannya bervariasi, ada yang mulus, ada yang sedikit rusak, tapi pemandangannya konsisten bagus dari awal sampai akhir. Bukit-bukit kapur, pohon rindang, angin yang lumayan kencang, dan sesekali ada sapi, kerbau, atau kuda yang lagi santai di pinggir jalan.

Perjalanannya sendiri sudah jadi hiburan tersendiri.

Tujuan pertama adalah Desa Adat Prai Ijing, tidak jauh dari pusat kota Waikabubak. Desa ini berdiri di atas bukit kecil, dan begitu masuk, langsung ketahuan bedanya dari kampung biasa. Rumah-rumah adatnya punya menara tinggi yang menjulang, namanya Uma Bokulu, artinya rumah besar. Tiap rumah terbagi tiga tingkat, dan di halaman kampung ada kubur batu megalitik yang ukurannya besar-besar, katanya melambangkan perahu yang berlayar ke dunia arwah, sesuai kepercayaan Marapu yang masih dipegang warga setempat.

Saat kita datang, ternyata sedang ada upacara adat karena ada warga yang meninggal. Suasananya berbeda dari yang kami bayangkan, lebih khidmat. Kami tetap disambut dan diizinkan masuk, dan salah satu warga di sana menjelaskan rangkaian upacaranya.

Dalam tradisi Marapu, upacara kematian berlangsung beberapa hari, dan tiap harinya ada hewan berbeda yang disembelih, bisa babi, kerbau, atau kuda, masing-masing punya maknanya sendiri. Kami sempat lihat babi yang sudah disiapkan, belum mulai dipotong, tapi sudah jelas ini bukan hari biasa buat warga desa.
Beberapa orang dari rombongan kami yang berada dekat lokasi upacara dikasih kapur sirih, termasuk suami saya. Dia nggak berani makannya, jadi ya diterima saja dengan sopan.

Justru kunjungan yang tidak terencana seperti ini terasa lebih berkesan, karena kita tidak hanya lihat “wisata budaya” versi bersih dan tertata, tapi benar-benar masuk ke kehidupan yang sedang berjalan.

Dari Prai Ijing, rombongan lanjut ke Wee Kacura di Sumba Barat Daya. Ini air terjun yang lokasinya unik banget karena ada di tengah sawah, bukan di dalam hutan atau kaki gunung seperti air terjun pada umumnya. Airnya berasal dari mata air di dalam gua batu yang disebut Waikelo Sawah, dan mengalir ke area persawahan sekitarnya sepanjang tahun. Kami parkir motor di tepi jalan aspal yang membelah persawahan, lalu jalan kaki menyusuri pematang sawah sekitar lima menit.

Dulu pertama kali tahu tentang Wee Kacura ini dari film Susah Sinyal. Tadinya sudah membayangkan bisa nyebur di situ. Tapi pas sampai, ternyata sedang ada larangan berenang dari pihak setempat. Sehari sebelumnya, seorang anak dari desa sekitar jatuh di aliran Wee Kacura dan ditemukan meninggal dunia. Jadi kami hanya bisa menikmati dari agak jauh, foto-foto dengan latar belakang air dan sawah yang hijau.

Pulangnya, kami tidak kembali ke Sumba Timur malam itu. Ada penginapan yang sudah menunggu di Sumba Barat, dan besok masih ada destinasi lain yang ingin kami jajal.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.